Ketegangan antara kapal patroli Taiwan dan Cina kembali memanas di perairan Laut Cina Selatan, terutama di sekitar Kepulauan Pratas yang dikuasai Taiwan namun juga diklaim oleh Beijing. Insiden ini berlangsung sejak akhir pekan lalu dan melibatkan komunikasi radio yang intens antara kedua pihak.
Kapal Penjaga Pantai Taiwan, yang dikenal dengan sebutan Coast Guard Administration (CGA), melaporkan bahwa mereka mendeteksi kapal Penjaga Pantai Cina dengan nomor 3501 yang bergerak menuju Kepulauan Pratas. Dengan sigap, Taiwan mengirimkan kapal patroli untuk menghadang dan memberi peringatan melalui radio. Namun, situasi ini berkembang menjadi saling ancam dan konfrontasi verbal terkait klaim kedaulatan atas kawasan tersebut.
Kapal Cina menegaskan mereka sedang melakukan misi patroli rutin dan memiliki kedaulatan atas Kepulauan Dongsha. Mereka meminta agar operasi mereka tidak diganggu. Merespons pernyataan itu, CGA Taiwan menuduh Cina menggunakan narasi perdamaian sebagai kedok untuk memperkuat klaim mereka. Pihak Taiwan juga menegaskan bahwa komunitas internasional tidak akan mendukung tindakan Beijing yang dianggap meresahkan di kawasan tersebut.
Dalam siaran radio yang dipublikasikan oleh pemerintah Taiwan, CGA meminta kapal Cina untuk segera mengubah arah dan meninggalkan perairan yang mereka klaim sebagai wilayah yurisdiksi Taiwan. Mereka memperingatkan bahwa tindakan hukum akan diambil jika kapal Cina tetap bertahan di area tersebut. “Anda diperintahkan untuk segera mengubah arah. Jika tidak, kapal kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai hukum,” tegas CGA dalam komunikasinya.
Sejauh ini, Kantor Urusan Taiwan di Cina belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini. Menurut seorang pejabat CGA, penggunaan istilah ‘yurisdiksi dan kedaulatan’ oleh pihak Cina dalam komunikasi radio sangat jarang terjadi, terutama mengingat lamanya kapal Cina berada di dekat Kepulauan Pratas. Insiden ini bukanlah yang pertama; pada Jumat malam sebelumnya, penjaga pantai Taiwan juga berhasil mengusir kapal riset Cina yang berusaha memasuki perairan sekitar kepulauan tersebut.
Kepulauan Pratas, yang merupakan pulau karang dan juga statusnya sebagai taman nasional Taiwan, memiliki pertahanan terbatas dan dijaga oleh penjaga pantai, bukan militer reguler. Hal ini menjadikan wilayah tersebut rentan terhadap tekanan dari Cina, mengingat jaraknya yang lebih dari 400 km dari pulau utama Taiwan. Pada Januari lalu, Taiwan mengungkapkan bahwa sebuah drone pengintai Cina juga sempat melintasi wilayah Pratas.
Saat ini, Cina diketahui mengoperasikan lebih dari 120 kapal riset oseanografi di kawasan Indo-Pasifik, termasuk sekitar 41 kapal yang aktif di perairan dekat Taiwan. Ketegangan yang terjadi ini menunjukkan bahwa situasi di Laut Cina Selatan masih sangat dinamis dan berpotensi menimbulkan konflik lebih lanjut jika tidak ditangani dengan hati-hati.