Ketegangan antara AS dan Iran dalam konflik 2023Ketegangan AS-Iran Memuncak, Perang Kembali Mengancam

Ketegangan antara (AS) dan kembali meningkat setelah seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan kemungkinan terjadinya baru. Peringatan ini disampaikan beberapa jam setelah Presiden AS, Donald Trump, mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap proposal negosiasi terbaru yang diajukan oleh Teheran.

Proposal damai yang diserahkan oleh Iran kepada Pakistan sebagai mediator pada Kamis malam lalu, hingga saat ini belum dipublikasikan rinciannya. Ketidakpastian ini menambah bobot konflik yang telah berkepanjangan antara AS, Iran, dan Israel, yang kembali memanas sejak akhir Februari. Sejak 8 April, pertempuran tersebut sempat terhenti setelah perundingan di Pakistan gagal mencapai kesepakatan.

Dalam pernyataannya, Trump mengungkapkan rasa ketidakpuasannya dengan tawaran Iran, yang ia sebut mencerminkan perpecahan serius di dalam kepemimpinan Iran. Ia juga menyatakan dilema pemerintahannya antara melanjutkan serangan besar atau mencari kesepakatan damai, meskipun ia lebih memilih opsi kedua dengan alasan kemanusiaan.

Di sisi lain, pejabat militer Iran, Mohammad Jafar Asadi, menilai bahwa konflik lanjutan tampaknya tidak terhindarkan, menyerukan bahwa AS tidak dapat dipercaya dalam menjaga komitmen perjanjian. Ketua Mahkamah Agung Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menegaskan bahwa Iran tidak pernah menolak negosiasi, namun menolak syarat yang dianggap dipaksakan oleh pihak lain.

Sementara Gedung Putih belum merinci lebih jauh tentang proposal Iran, laporan media menyebutkan bahwa utusan AS, Steve Witkoff, mengusulkan revisi yang mengedepankan program nuklir Iran sebagai fokus utama. Di antaranya, Iran diminta untuk tidak memindahkan uranium yang telah diperkaya dari lokasi yang dibom dan tidak melanjutkan aktivitas di sana selama proses negosiasi berlangsung.

Kabarnya, pengajuan proposal damai dari Iran sempat menurunkan harga minyak dunia hingga hampir 5%. Namun, harga tetap lebih tinggi 50% dibandingkan sebelum konflik, terutama akibat penutupan Selat Hormuz yang mempengaruhi pasokan energi global. Iran selama ini mempertahankan kontrol ketat di jalur perairan strategis tersebut, sementara AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan Iran, yang memperburuk kondisi ekonomi kedua negara.

Di tengah kebuntuan ini, seorang warga Teheran bernama Amir menggambarkan situasi saat ini sebagai terjebak antara hidup dan mati. Ia pesimistis terhadap peluang perdamaian dan meramalkan adanya serangan baru dari AS dan Israel. Ia mengungkapkan bahwa semua negosiasi ini tampaknya hanya untuk mengulur waktu.

Walaupun gencatan senjata berlaku di kawasan Teluk, pertempuran masih berlangsung di Lebanon, di mana Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan 13 orang tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan. Di sisi lain, AS mengumumkan penjualan besar senjata kepada sekutunya di Timur Tengah, termasuk sistem rudal Patriot senilai US$ 4 miliar untuk Qatar serta sistem senjata presisi untuk Israel.

Di AS, situasi politik juga semakin memanas. Pemerintahan Trump menghadapi perdebatan hukum dengan Kongres mengenai batas waktu persetujuan perang dengan Iran, sementara tekanan politik meningkat seiring dengan inflasi yang tinggi dan ketidakpastian menjelang pemilihan paruh waktu.

Sementara itu, dampak ekonomi dari konflik semakin dirasakan di Iran, di mana inflasi dilaporkan melonjak lebih dari 50%. Sanksi baru dari AS dan gangguan dalam ekspor minyak memperparah kondisi. Banyak warga Iran yang kini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, dengan beberapa di antaranya bahkan tidak memiliki sisa penghasilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *