Amaliyah Sholihah mengolah sampah menjadi produk ecobrickAmaliyah Sholihah: Ubah Sampah Jadi Ekonomi Berkelanjutan di Banten

Amaliyah Sholihah: Dari Sampah Menjadi Sumber Pendapatan

Sampah bukan lagi masalah bagi Amaliyah Sholihah, seorang ibu rumah tangga asal Kampung Masigit, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten. Di tangannya, limbah rumah tangga justru bertransformasi menjadi sumber pendapatan yang signifikan dan sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Amaliyah adalah nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM) yang memulai usaha rumahan dengan membuat kue basah sejak tahun 2019. Usaha kecil yang awalnya hanya menghasilkan antara Rp10 ribu hingga Rp100 ribu per hari perlahan berkembang berkat dukungan pembiayaan dan pendampingan dari PNM Cabang Serang.

Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga

Namun, seiring dengan bertambahnya produksi kue, Amaliyah menghadapi tantangan baru: penumpukan sampah. Hal ini mendorongnya untuk mencari solusi kreatif dengan memanfaatkan limbah non-organik yang dihasilkan di rumahnya. “Ini bukan hanya tentang perjuangan kami untuk menciptakan lingkungan yang bersih, tetapi juga tindakan nyata kami untuk melindungi bumi,” ungkap Amaliyah.

Bersama suaminya, ia mulai memilah sampah rumah tangga seperti plastik kemasan, botol, dan kardus. Limbah tersebut kemudian diolah menjadi ecobrick, yaitu botol plastik yang diisi dengan sampah yang dipadatkan. Ecobrick ini selanjutnya dirakit menjadi produk bernilai jual, seperti sofa. Proses pembuatan ecobrick memerlukan ketelitian dan langkah-langkah yang tepat. Sampah plastik dipotong kecil dan dimasukkan ke dalam botol bersih, lalu dipadatkan hingga mencapai bobot tertentu agar kuat.

Untuk botol ukuran 600 mililiter, bobotnya harus mencapai 200-250 gram, sedangkan untuk botol 1,5 liter sekitar 500 gram. Setelah cukup terkumpul, botol-botol tersebut disusun dan direkatkan, dilapisi dengan kardus dan triplek, kemudian ditambahkan busa hingga menyerupai sofa pada umumnya. Menurut Amaliyah, satu sofa kecil dapat menampung sekitar 4,7 kilogram sampah plastik, sementara sofa berukuran besar dapat mencapai hampir 10 kilogram.

Inisiatif Bank Sampah Mata

Dalam waktu kurang dari satu tahun, Amaliyah berhasil memproduksi lebih dari 80 sofa ecobrick yang dipasarkan melalui berbagai pameran. Selain itu, ia juga menginisiasi gerakan kolektif dengan mendirikan Bank Sampah Mata. Melalui program ini, warga diajak untuk memilah sampah dari rumah mereka untuk disetorkan dan diolah kembali.

Saat ini, sebanyak 86 keluarga telah bergabung dalam inisiatif ini, yang tidak hanya membantu mengurangi volume sampah tetapi juga memberikan tambahan penghasilan bagi warga. “Dulu, sampah dibuang begitu saja ke kali. Sekarang, kami mengumpulkannya dan bisa mendapatkan uang,” ujar Sifa, salah satu warga setempat.

Dampak Positif bagi Lingkungan dan Ekonomi

Dalam mekanisme yang diterapkan, sampah yang diolah menjadi ecobrick dihargai Rp5.000 per kilogram. Amaliyah juga telah mengembangkan produk lain seperti lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Dampak dari gerakan ini mulai terlihat jelas. Ketua RT setempat, Ely, melaporkan bahwa volume sampah di wilayahnya berkurang signifikan, dari 800-900 kilogram per bulan menjadi sekitar 400 kilogram.

Inisiatif ini juga mendapat tanggapan positif dari pemerintah daerah yang memberikan sejumlah penghargaan. Amaliyah menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak, termasuk dukungan pemerintah dan pendampingan dari PNM.

Lebih dari sekadar dampak ekonomi dan lingkungan, kegiatan ini juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Sebagian dari keuntungan yang diperoleh dari penjualan produk disisihkan untuk membantu anak yatim dan perempuan kurang mampu. Pada tahun 2025, Amaliyah bersama kelompoknya berencana menyalurkan santunan kepada tujuh anak yatim dan 34 janda dhuafa. “Melihat mereka tersenyum adalah kebanggaan bagi kami,” kata Amaliyah.

Kesimpulan

Di tengah tantangan sampah yang masih dihadapi berbagai daerah, langkah yang diambil Amaliyah Sholihah menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari tingkat rumah tangga. Usahanya tidak hanya mengubah sampah menjadi sumber ekonomi, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Dengan merangkul komunitas, Amaliyah memberikan contoh nyata bagaimana tindakan kecil dapat membawa dampak besar bagi lingkungan dan ekonomi lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *